18 Januari 2009
Cek kontrol kemampuan diri anda
Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada anak-anak. Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat akan berlarian, mencoret-coret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apa pun yang ia inginkan.
Bayangkan bila perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Tentu saja cukup aneh. Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan seseorang yang bukan lagi anak-anak bertindak sesuka hati, membiarkan dorongan-dorongan atau keinginan yang bersifat egoistis termanifestasi begitu saja.
Semakin bertambah usia seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali atas perilakunya sendiri. Dengan kata lain, semakin mengembangkan kemampuannya mengontrol diri.
Kendali/kontrol diri (self-control) adalah pengaruh atau atau regulasi seseorang terhadap fisik, perilaku, dan proses-proses psikologisnya (Calhoun & Acocella, 1990). Ini merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seseorang. Mengapa?
Pertama, kontrol diri berperan dalam hubungan seseorang dengan orang lain. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kita tidak hidup sendirian, melainkan di dalam kelompok, di dalam masyarakat. Padahal, kita memiliki kebutuhan pribadi seperti makanan, minuman, kehangatan, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita perlu mengendalikan diri sedemikian rupa, supaya tidak mengganggu orang lain.
Kedua, kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi. Setiap orang, dari budaya mana pun, selalu berharap mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Contohnya, tujuan untuk memiliki kompetensi tertentu, mencapai kematangan pribadi, dan sebagainya, sesuai dengan standar yang ada dalam masyarakat.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut kita perlu belajar dan berusaha terus-menerus, dan mengendalikan diri dengan menunda pemuasan kebutuhan-kebutuhan sesaat demi mencapai tujuan jangka panjang.
Dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya, kita akan menjadi pribadi yang efektif, sehingga dapat secara konsisten merasa bahagia, bebas dari rasa bersalah, hidup lebih konstruktif, dapat menerima diri sendiri, dan juga diterima oleh masyarakat.
Kontrol Internal dan Eksternal
Semakin bertambah usia, seseorang diharapkan untuk semakin mengembangkan kemampuan mengendalikan perilakunya. Dari mana sumber kontrol perilaku seseorang? Sumbernya dapat dibedakan menjadi dua: faktor di dalam dan di luar diri seseorang.
Kontrol perilaku yang bersumber dari dalam diri biasanya disebut sebagai kontrol internal, dan yang bersumber dari luar diri disebut kontrol eksternal. Dalam kontrol diri (internal), individu mengatur perilaku dan standar kinerjanya sendiri; memberi ganjaran bagi dirinya sendiri bila berhasil mencapai tujuan; dan menghukum dirinya sendiri bila tidak berhasil mencapai tujuan.
Di sisi lain, dalam kontrol eksternal, individu menempatkan orang lain sebagai penentu (yang menjadi penyebab) perilaku, standar kinerja, dan ganjaran-ganjaran yang diperolehnya.
Dari dua jenis kontrol perilaku tersebut, kontrol pribadi (internal) dinilai lebih berharga. Sepanjang kita menggantungkan diri pada kontrol eksternal, kehidupan kita sebagian besar ditentukan oleh orang lain. Sebaliknya, dengan mengembangkan kontrol diri (internal) berarti kita mengendalikan dua hal: diri sendiri dan dunia sekitar kita.
Problem Pengendalian Diri
Seperti telah dijelaskan di atas, kontrol diri yang berkembang dengan baik akan memberikan banyak keuntungan bagi seseorang. Namun, dalam kenyataan, tidak semua kita mampu melakukan pengendalian diri secara konsisten.
Kemampuan pengendalian diri kita bervariasi. Ada orang yang sering terlalu banyak minum (hingga mabuk), yang lain terlalu banyak makan, yang lain lagi mudah kehilangan kontrol emosi, cenderung menunda pekerjaan, dan sebagainya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Seperti halnya kontrol diri yang kuat, kontrol diri yang lemah juga berkembang melalui proses belajar. Contohnya, seorang remaja yang tetap impulsif, yakni selalu marah bila keinginannya tak terpenuhi, kemungkinan menjadi demikian karena sejak kecil orangtuanya selalu menuruti segala permintaan (berfungsi sebagai ganjaran) setiap kali anaknya itu merengek meminta sesuatu, terlebih-lebih bila anaknya mulai marah.
Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti si anak mengalami proses pembelajaran bahwa permintaannya pasti terpenuhi bila disertai marah. Selanjutnya ia mengembangkan pola perilaku marah setiap kali permintaannya belum terpenuhi.
Seseorang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, mungkin menjadi demikian karena sejak kecil terbiasa bekerja dalam tekanan orangtua (berfungsi sebagai hukuman). Dalam situasi demikian ia termotivasi melakukan tugas hanya untuk menghindari hukuman. Akibatnya, dalam situasi tanpa adanya tekanan, ia cenderung bermalas-malasan.
M.M. Nilam Widyarini, MSi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Guna Dharma, Jakarta
Kompas, Januari 2009
04 Januari 2009
IMPIAN YANG MENJADI KENYATAAN
Prinsip pertama untuk pencapaian keberhasilan adalah keinginan, yaitu keinginan untuk mencapai sesuatu yang bernilai. Inginkanlah sesuatu yang besar, yang penting - yang bernilai; karena keinginan itu adalah petikan-petikan kecil di hati kita yang akan memulai ledakan-ledakan yang menjadikan Anda, pribadi yang cemerlang. Itulah sebabnya, sumber dari kekuatan hidup kita datang dari kecintaan yang haru akan kemungkinan-kemungkinan kita. Karena sumber dari semua kekuatan untuk mencapai keberhasilan adalah rasa demam yang mewarnai hati yang berdebar-debar menunggu perwujudan dari kemungkinan-kemungkinannya.
UJIAN ATAU ANUGERAH
Pekerjaan bukanlah sebuah beban, tetapi sebuah kesempatan.Semua keberhasilan yang diinginkan orang, berada di tingkat-tingkat tinggi dari pekerjaannya.Itu sebabnya kesempatan untuk melakukan apa pun adalah sebuah berkah.
Jangan mengeluhkan kesibukan kerja kita. Banyak saudara kita yang ingin sibuk, tetapi tidak ada yang memberinya pekerjaan.
Pusatkan perhatian Anda pada yang Anda inginkan, bukan pada yang Anda khawatirkan. Fokus pada cita-cita dan keinginan Anda akan menghangatkan hati Anda. Dan dengannya Anda akan lebih mudah melihat jalan naik dan celah-celah menuju kesempatan-kesempatan besar.Fokus Anda pada kekhawatiran – akan membuat kaki dan tangan Anda dingin dan kaku. Dan dengannya langkah Anda – bergetar, dan pandangan Anda – nanar.
Mario Teguh Super Club
THE 7 LAW OF HAPPINESS
Untuk menghadapi suatu bagian perjalanan hidup yang dianggap buruk, sering kali pikiran-pikiran negatif yang lebih dulu muncul.
Arvan mencontohkan dalam menghadapi atasan yang temperamental sering kali pilihan yang diambil adalah negatif seperti memilih untuk sakit hati. Padahal, jika berpikir lebih jernih kita dapat melihat bahwa kondisi atasan yang temperamental bisa melatih kesabaran, kasih, dan juga memaafkan si atasan.
BERSYUKUR
Weits, siapa bilang bersyukur hanya harus dilakukan pada saat senang? Bersyukur harus pula dilakukan di saat sulit dan tertekan sekalipun. Dengan demikian, kebahagiaan ada di tangan Anda.
Demikian diungkapkan oleh motivator Arvan Pradiansyah dalam bukunya The 7 Laws of Happiness. "Sama ketika senang juga harus bisa sabar. Bersyukur juga harus bisa dalam keadaan susah," ujar Arvan dalam diskusi bukunya, Sabtu (3/1), di Gramedia Matraman Jakarta Pusat.
Menurut Arvan, bersyukur adalah proses berhenti sebentar di setiap momen dan menikmati momen tersebut. Bersyukur berpusat pada kondisi internal Anda. Oleh karena itu, pikirkanlah semua yang telah dimiliki, bukan yang diinginkan.
Memikirkan sesuatu yang belum Anda miliki membuat Anda tidak mudah untuk bersyukur. Bersyukur berarti pula fokus pada kelebihan Anda dan bukan pada kekurangan Anda. Arvan menganjurkan bertanya kepada orang-orang di sekeliling Anda untuk mengetahui kelebihan yang Anda miliki.
Dengan demikian Anda akan lebih mudah bersyukur atas diri Anda. Anda lebih sering bertanya "mengapa saya?" ketika ditimpa kemalangan. Namun, tanyakanlah hal yang sama ketika mendapatkan suatu berkat atau rahmat. Pikirkan alasan mengapa Anda yang diizinkan untuk mendapatkannya akan menolong Anda mudah untuk bersyukur.
Lain halnya ketika mendapatkan kemalangan. Jangan tanya "mengapa saya?" namun tanyakanlah "pelajaran berharga apa yang bisa saya dapatkan dari peristiwa ini?" Pertanyaan ini harus ditanyakan juga ketika Anda memperoleh kesenangan.
KESABARAN
Kebahagiaan berada dalam pikiran kita. Oleh karena itu, kebahagiaan dapat dicapai melalui suatu latihan. Arvan Pradiansyah, seorang motivator, merumuskan tujuh rahasia hidup bahagia dalam bukunya The 7 Laws of Happiness, terbitan Kaifa, PT Mizan Utama.
Rahasia yang pertama adalah sabar. Menurut Arvan, definisi sabar tidak sesempit pengertiannya yang selama ini dominan dalam masyarakat, yaitu mengurut dada sehingga menuntun kepada pemahaman bahwa sabar identik dengan penderitaan.
