BAGIAN SATU: KONSEP (PERENCANAAN)
Berbagi Cerita, Berbagi Kisah[1]
A. Prawacana
Konon, sebuah cerita, dewa dan manusia bisa hidup berdampingan. Tapi, tentu saja, hal itu bisa terjadi lantaran sang dewa mewujudnyatakan dirinya bak manusia biasa. Dikisahkan, dewa “Waktu” punya rambut terbaik di antara para dewa. Rambutnya terurai panjang. Tiap orang yang melihatnya, ingin membelainya. Hanya saja, setiap ia berjalan, hanya segelintir orang yang mau berusaha memegang –sekadar mengelus rambutnya. Lainnya hanya sebagai penonton. Ya, mungkin ini dikarenakan wajahnya yang tidak bisa terlihat jelas. Orang jadi mikir-mikir sebelum bertindak.
Saat ia telah berlalu dari hadapan khalayak itulah, biasanya banyak orang baru menyadari bahwa sang dewa tidak mungkin kembali menoleh padanya. Sebab apa? Karena dewa “Waktu” ternyata ‘botak’ di bagian belakang kepalanya (ha...ha..ha…). Jadi, tak ada sehelai rambut pun yang bisa digapai…
Cerita ini menginspirasikan bahwa waktu akan terus dan selalu berjalan. Dan di dalamnya ada, sedikit kesempatan. Tergantung, apakah seseorang bisa atau mau mempergunakan kesempatan -di dalam waktu itu- dengan sebaik-baiknya.
Dalam bahasa Yunani kuno, waktu memiliki dua kata: chronos dan kairos. Dari kata krono/chrono inilah terbentuk kata kronologi (krono:waktu dan logi: ilmu), yang artinya adalah ilmu yang mempelajari waktu atau sebuah kejadian pada waktu tertentu. Chronos lebih mengarah pada urutan waktu; menurut kronologis. Sedangkan kairos menandakan adanya suatu waktu tertentu (“di antara suatu waktu”); periode waktu yang tak dapat ditentukan sebagai “sesuatu yang khusus” terjadi. Dengan kata lain, chronos lebih bersifat kuantitatif, sedangkan kairos bersifat natural (ada yang mengartikan chance, kesempatan).
Nah, media –beserta dengan segala sesuatu yang terkait di dalamnya- adalah sebuah kairos di dalam chronos! Sebuah kesempatan yang ada dalam sepanjang perjalanan waktu yang terus berjalan. Kesempatan untuk saling berbagi dan mengisi. Mewartakan panggilan Ilahi demi keutuhan ciptaan-Nya.
B. Historical Story
1. Informasi PHMA via surat No. 444/VII/12/2008 tertanggal 19 Desember 2008 tentang pemberhentian terbit media GKJW: Majalah DUTA dan RIA -terhitung per Januari 2009 sampai dengan batas waktu yang belum dipastikan- tentu sangat mengejutkan. Padahal, itu merupakan salah satu sarana pewartaan/pembinaan iman, informasi serta komunikasi di antara warga dan jemaat se-antero GKJW[2].
Terkhusus Majalah DUTA sebagai “media resmi” milik lembaga “GKJW” yang turut menjadi bagian dari sejarah pada masanya dan bukti sejarah itu sendiri. Empat tahun sejak berdiri sinode GKJW pada 11 Desember 1931, tahun 1935 lewat keputusan sidang sinode di Surabaya pada 25-27 Juni tersebut, sesuai akta No. VII, tercetuslah ‘kesepakatan’[3] untuk membidani lahirnya media resmi khas GKJW. Di tahun yang sama itulah, empat bulan kemudian, jabang bayi bernama DOETA (dibaca duto) pun nongol dari rahim GKJW.
Itu artinya, rentang waktu yang cukup panjang selama + 73 tahun (Oktober 1935-Desember 2008) telah dilakoni media ini. Tentu dengan segala cerita yang terkait bersamanya, baik suka (apresiasi yang baik, peningkatan kuantitas dan kualitas isi dan fisik) dan duka (berhenti akibat imbas zaman perang, krisis ekonomi, serta regenerasi tim pelaksana).
2. Sebenarnya, apa to kegunaan dari sebuah media? Seberapa pentingkah ia ada? Apa fungsinya? Terlebih lagi bagi media yang secara khusus beratribut kristiani? Pertanyaan ini barangkali bisa dikembalikan lagi pada dasar dimensi kekristenan itu sendiri. Cobalah direnungkan, apa jadinya bila sekumpulan tulisan yang kini terjilid menjadi satu buku besar yang bernama Alkitab itu tidak pernah tercatat? Bisa membayangkan bila media itu tidak pernah ada (karena tidak tercatat/tertulis)?!
3. Lantas, jika media GKJW sudah tiada lagi, apa lagi yang mau diharapkan?[4]
Masalah ‘klasik’ memang. Hal ini terus menjadi bahan perdebatan panjang: menerbitkan media, butuh dana. Kalau dana tidak memungkinkan tersedia[5], jelas tidak ada media yang bisa ditebitkan. Sisi lain, media mengemban ‘beban moral’ yang tidak ringan. Di samping sekadar informasi kebijakan/aktivitas, juga pada fungsi media itu sendiri (apa? lihat no. 1).
Penerbitan media adalah salah satu bentuk pelayanan. Kalau hasilnya tidak minimal mencapai “BEP” (titik impas) = bisnis. Kata “bisnis” (katanya) “tabu” bagi gereja. Tapi, kalau ‘subsidi’ terus (katanya lagi) memang tidak memungkinkan. Salah satu jalan, ya, itu tadi: divakumkan (sebagai kata ganti yang lebih halus dari penghentian terbit?).
Apa ya memang harus seperti ini?[6]
C. Paparan Realita
1. Jemaat-jemaat GKJW sudah tidak asing dalam mengelola warta/berita jemaat. Selain itu, langkah lebih jauh adalah membuat website, blog, friendster atau model ‘forum publikasi’ a la jagad maya lain yang sejenis (twitter, facebook, misalnya). Bukankah langkah maju demikian ini layak diapresiasi -meskipun terkadang yang membuatnya berdasar atas inisiatif personal, bukan dari cetusan ‘lembaga’ yang menaunginya- dengan baik? Bisa jadi, proses yang seperti ini yang menjadikan GKJW sebagai gereja gerakan warga. Warga yang memiliki talenta, mengembangkan diri untuk kemajuan gerejanya, tanpa perlu disuruh atau diminta. Dengan suka dan dengan rela, ia melakukan pelayanan menurut ‘versinya’.
Jika potensi yang sedikit-sedikit tadi diwadahi, disinergikan, bukankah itu menjadi sebuah kekuatan baru yang jauh lebih besar? Sayang kan kalau punya informasi menarik tapi yang menikmati hanya segelintir saja? Sebagaimana jiwa patunggilan kang nyawiji, tentulah wujud saling berbagi itu bisa dalam rupa informasi. Media sebagai sarana komunikasi tentu mampu memperkuat jejaring tersebut.
Ini artinya, kompetensi warga GKJW sebenarnya juga bisa dibanggakan dalam bidang jurnalistik[7]. Tinggal bagaimana memberdayakan mereka dalam satu wadah komunitas yang tepat. Agar jangan sampai potensi-potensi yang sangat berharga ini termanfaatkan oleh pihak lain, karena kita sendiri melalaikan mereka.
2. Tentang “GKJW” sendiri. Ada banyak informasi yang memuat tentang lembaga ini[8]. Bukan hanya secara intern di kalangan media-media lokal dalam lingkup jemaat se-GKJW, tapi juga yang non-GKJW. Entah itu yang bersifat kristiani ataupun media umum dan lintas agama. Baik itu dalam bentuk media cetak maupun elektronis (TV dan internet).
Ini artinya, GKJW masih mendapat tempat di hati banyak kalangan pers. Meskipun, memang tidak semua bisa ter-cover (salah satu sebab, selain masalah lokasi, juga kegamangan dalam publikasi[9]).
3. Meski teknologi kini sudah sangat jauh berkembang, memang tidak dipungkiri, media konvensional (media cetak) tetap menjadi yang nomer satu.
Lantas, apa yang menjadi persoalan umum dalam sebuah penerbitan media?
Ini sekadar contoh kecil dalam sebuah komunitas jemaat. Kendala yang biasanya terjadi adalah soal kontinuitas terbit dan masalah pendanaan.
a. Ada yang bisa menyediakan dana tapi tidak ada yang mampu menjaga kontinuitas (keajegan terbit). Jadi, gereja tidak mau terlalu berisiko untuk menetapkannya ke dalam anggaran PKT (APBJ).
b. Ada yang tidak bisa menyediakan dana tapi ada yang mau menjaga kontinuitas (keajegan terbit). Jadi, pengelola bisa menerbitkan media dengan jangka kadang kala saja; sebisa dan semampunya.
Bagaimana jika keduanya bertemu? Alangkah baiknya, bukan? Apa kita tidak ‘malu’[10] dengan gereja/lembaga Kristen lain yang secara usia jauh lebih muda, mampu menghadirkan bacaan yang lebih fresh dan diminati khalayak?
4. Berbagi pengalaman pembelajaran
Ada banyak media yang beredar di Indonesia, dengan berbagai pasang-surutnya. Entah itu media yang sifatnya ditujukan kepada pembaca umum atau khusus untuk komunitas tertentu, baik yang berbayar atau gratis, entah itu sifatnya harian, mingguan, tengah bulan (dwi minggu), bulanan, tahunan. Entah itu untuk anak-anak, remaja, pemuda, wanita, orang tua, keluarga. Pendeknya, banyak …
Nah, bentuk seperti apa dan manajemen yang bagaimana yang hendak di’anut’ oleh media GKJW ke depan?! Segala kelebihan dan kekurangan bisa dipelajari dan dijadikan bahan acuan dalam ‘membuat’ media yang lebih mak nyuusss….
D. What Next?
1. Media baru
Sesuatu dikatakan baru, memiliki dua makna. Baru dalam arti sebelumnya belum pernah ada atau baru dalam arti memperbarui dari yang sebelumnya ada. Sedikitnya ada dua pilihan, yang masing-masing memiliki nilai plus dan minus.
a. Nama lama, bentuk baru
Nama adalah cerminan dari identitas diri. Di dalamnya pula ada sebuah spirit dan harapan. Biasanya, sedapat mungkin nama dipertahankan karena menyangkut image, yang telah melekat erat di benak setiap orang. Memakai nama lama jelas tetap terikat pada ‘aturan main’ yang sebelumnya.
Nilai (+) plus : tetap ada kesinambungan
Nilai (–) minus : kesulitan pengembangan diri
b. Nama baru, bentuk baru
Membuat yang baru mungkin bisa lebih mudah atau lebih sulit. Mudahnya, bisa belajar dari mana-mana untuk mencari yang terbaik. Sulitnya, karena baru, tahap persiapan dan pelaksanaan jadi jauh lebih panjang jangka waktunya.
Nilai (+) plus : bisa melakukan kreativitas di segala lini
Nilai (– ) minus : masih asing, belum dipercaya (teruji)
Tentu, biasanya jalan yang paling mudah adalah ‘kompromi’, bila tak mau terlalu ribet. Nah, kini bagaimana caranya agar bisa mencapai alternatif terbaik (win-win solution)?[11]
2. Pendanaan
Diakui atau tidak, soal pendanaan atau aspek keuangan (permodalan) bisa ‘berbuntut panjang’. Ada banyak persoalan yang perlu diselesaikan, supaya tercapai satu pemufakatan. Misalnya tinjauan dasar teologis, lalu berlanjut pada aspek lain tentang tata cara pelaksanaannya kelak.
Alternatif yang bisa dilakukan, agar media tetap eksis (tidak cuma berharap pada ‘satu pintu’):
a. Persembahan tidak mengikat (bebas)
b. Donatur
c. Iklan (advertorial)
d. Usaha warga
e. ……………………………
3. Bentuk
Yakni bentuk media seperti apa yang akan digarap atau dikerjakan[12]. Perlu dibahas mengenai manajemen usaha, seperti bentuk sharing programm serta pelaksanaan lapangan.
Alternatif:
a. Kerjasama struktural-kelembagaan è kembali pada spirit dan sesanti GKJW sebagai gereja gerakan warga dan rasa patunggilan kang nyawiji, penerbitan kembali media GKJW dilakukan melalui lembaga MD, jemaat, atau kelompok kategorial di dalamnya atau bahkan lintas kelompok kategorial
b. Kerjasama dengan personal (independen) è warga yang berminat, bersedia mendukung
c. …………………………….
4. Isi
Isi media, pada tahap awalan berisi:
a. Berita è berisi aktivitas di jemaat atau kelompok kategorial atau hobi (komunitas)
b. Info usaha (profil) è dipegang oleh tim inti (redaksi ‘fulltimer’)
c. Artikel atau tanya jawab è bidang teologi (PJ: pendeta yang ditunjuk)
d. Umum è hukum, kesehatan dll (PJ: orang yang berkompeten di bidangnya)
e. …………………………..
Nah, selanjutnya menyusul sesuai dengan perkembangan[13].
E. Pungkasane Wiwitan
Dua anak kecil sedang mengamati sebuah timba yang berisi air. Lalu, orang dewasa yang menyertainya berkata kepada mereka. “Ayo, cobalah angkat timba itu.”
Dua anak kecil itu lantas berpandangan. Seakan hendak mempersilakan siapa dulu yang hendak mengangkat. Si anak yang satu langsung berkata, “Ya, tidak kuat. Saya kan masih kecil. Mana kuat mengangkatnya?”
Anak satunya tanpa banyak kata, mendekati timba yang berisi air itu dan lalu mengangkatnya. Ups … dan ternyata hasilnya adalah ….
Berhasil! Siapa yang tak menginginkan hal ini. Setiap orang pasti menginginkan yang namanya keberhasilan. Tetapi, apakah keberhasilan dapat dicapai tanpa melakukan sebuah usaha? Jelas tidak! Keberhasilan hanya dapat diketahui setelah seseorang telah mencoba melakukan sesuatu.
Nah, soal keberhasilan ini, ada satu petuah bijak. “Lihatlah dari sisi yang lain.” Artinya, segala sesuatu dalam hidup ini, jangan cuma dilihat hanya dari satu sudut pandang saja. Selain menjenuhkan, juga tak ada variasi dalam hidup. “Lihatlah kehidupan ini dari banyak segi, sebab di sanalah engkau bisa merasakan keunikannya.”
Kata orang bijak lagi, menilai seseorang bisa dilihat dari cara orang tersebut memandang permasalahan. “Apa yang membedakan seorang dengan yang lain?” CARA PANDANG. Tengoklah apa yang akan terjadi bila sebuah masalah dilihat dari sisi yang berbeda. Yang satu, melihat rintangan sebagai hambatan. Yang lain, melihat rintangan sebagai tantangan. Apa hasil yang didapat? Yang satu, mundur, tidak berani melangkah, takut terhadap rintangan itu. Satunya, melalui rintangan itu. Ia berani mengambil keputusan untuk menghadapinya.
Kini, setelah keduanya telah sama-sama mengambil keputusan, apa yang terjadi? Sebuah keputusan, baik untuk berbuat sesuatu maupun tidak berbuat sesuatu. Yang satu tetap tidak tahu hasil akhirnya, karena ia belum atau tidak mencoba menghadapi rintangan. Ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berandai-andai tapi tanpa mau mencoba. Ia takut pada bayangan yang dibuatnya sendiri. Meski kemungkinan itu masih sama besar 50 %. Peluang yang masih berimbang.
Satunya, ia sudah tahu jawabannya. Jika ia gagal mengatasi rintangan, setidaknya ia pernah mencoba. Ia tahu seberapa besar rintangan yang telah menghalanginya. Suatu saat, jika ia menemukan rintangan yang sama, ia sudah bisa menghadapinya. Sebaliknya, jika ia berhasil menghadapi rintangan itu, ia bisa mengukur kemampuannya, dan mencoba untuk siap dalam menghadapi rintangan berikutnya. Siapa tahu, kelak rintangannya kian bertambah berat. Atau barangkali justru lebih mudah. Namun satu yang pasti, ia sudah pernah mencoba.
Apakah Anda pernah mengalami hal seperti ini?Cobalah untuk berani melangkah. Sebab, tanpa berbuat, Anda tak akan tahu sejauh mana sebenarnya batas kemampuan yang Anda miliki.
“Mereka yang optimistis akan melihat kesempatan dalam setiap bahaya yang datang.
Sementara yang pesimistis akan selalu melihat bahaya dalam setiap kesempatan.”
(Winston Churchill, tokoh politik dan pengarang Inggris)
F. Lampiran
1. Bacaan I (sumber: gkjw.web.id)
Internet: Forum Baru bagi Pewartaan Injil
Pengantar dari admin:
Gereja adalah pihak pertama yang “diuntungkan” dengan penemuan mesin cetak. Guttenberg, -sang penemu mesin cetak- memilih Alkitab sebagai buku pertama yang dicetak dan diproduksi masal. Karya Guttenberg: menjadi icon yang menandai kelahiran mesin cetak.
Demikianlah. Penemuan-penemuan saling susul menyusul hingga tibalah peradaban manusia pada teknologi internet. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika kita dapat berkomunikasi dan bertukar informasi dengan orang lain dibelahan bumi yang berbeda.
Setiap penemuan baru selalu melahirkan budaya baru: Kita merasa perlu terhubung dengan e-mail setiap saat. Kita berteman secara virtual melalui jaringan sosial macam facebook dan friendster. Berubahnya kebudayaan dan perilaku manusia ini menuntut pula perubahan bentuk-bentuk pewartaan injil. Sekali lagi gereja mendapat kesempatan untuk mengambil “keuntungan” dari lahirnya sebuah media baru.
Gereja Katholik nampaknya sangat menyadari hal itu. Setiap tahun di bulan Mei mereka memperingati Hari Komunikasi sedunia dengan mengambil tema yang berbeda setiap tahun. Pada tahun 2002 lalu, Gereja Katholik mengangkat tema: “Internet: Forum Baru Bagi Pekabaran Injil.”
Berikut ini adalah pesan Paus Yohannes Paulus II tentang bagaimana seharusnya gereja memanfaatkan internet. Meski tidak baru lagi, namun kami anggap pesan ini tetap relevan saat ini untuk mengarahkan bagaimana kita memanfaatkan media ini.
Pesan Bapa Suci pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-36
Minggu, 12 Mei 2002
Saudara dan Saudari Yang Terkasih,
Meneruskan Tugas Pewartaan Para Rasul
1. Pada hari Pentekosta, Roh Kudus turun atas para rasul. Di bawah kuasa Roh itulah mereka lalu turun ke jalan-jalan kota Yerusalem untuk mewartakan Injil dalam pelbagai bahasa (bdk Kis 2:5-11). Tugas Gereja sepanjang jaman tiada lain melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai para rasul itu.
Abad-abad selanjutnya, patuh pada perintah Kristus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia (bdk Mt. 28:19-20), para pewarta Injil menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di situ agama Kristen kemudian berakar dan belajar fasih dalam aneka bahasa dunia.
Menuntut kreativitas dan imajinasi segar
Namun, pewartaan Injil bukan sebatas sejarah bagaimana Gereja berkembang anggotanya dan meluas wilayahnya. Termasuk di dalamnya bagaimana Gereja berjumpa dengan aneka budaya dan tradisi. Kendati pesan yang dibawanya tetap sama, yakni Yesus Kristus, namun Gereja setiap kali dituntut menggali dan menggunakan daya kreativitas dan imajinasi yang segar, agar pesan itu difahami.
Momen-Momen Peralihan Budaya
Seperti jaman penemuan-penemuan besar, Jaman Pencerahan dan penemuan teknologi cetak, revolusi industri dan lahirnya dunia modern. Semuanya itu merupakan momen-momen peralihan yang menuntut bentuk-bentuk pewartaan Injil yang baru. Kini, di tengah gencarnya revolusi komunikasi dan informasi, tak pelak lagi Gereja berdiri lagi di muka sebuah pintu gerbang yang menentukan. Oleh karena itu tepatlah kalau pada hari Komunikasi Sedunia tahun 2002 ini kita merenungkan tema “Internet: Sebuah Forum Baru bagi Pewartaan Injil.”
Internet sebagai Forum
2. Internet memang menyerupai sebuah “forum” sebagaimana dipahami dulu pada jaman Romawi kuno. Yakni, sebuah ruang yang terbuka untuk umum tempat percaturan politik, kegiatan bisnis, ritual keagamaan, tempat interaksi kehidupan sosial kota, dan juga panggung tempat dipertontonkan segi-segi yang paling baik maupun yang paling buruk dari kodrat manusia. Forum itu terletak pada bagian dari kota yang paling padat penduduknya, juga yang paling ramai dan paling hidup. Kepadatan dan keramaian mencerminkan budaya sekitarnya dan juga menciptakan budayanya sendiri.
Panggilan Gereja untuk berkiprah: Duc in altum!
Semacam forum itulah Internet atau dunia maya. Boleh dikata sebagai lahan baru yang terbuka pada awal milenium ini. Seperti halnya daerah-daerah perbatasan baru pada jaman-jaman sebelumnya, Internet penuh dengan silang menyilang hal-hal yang mengandung bahaya dan yang membawa harapan baru. Di situ juga tidak tanpa segi avontur yang selalu menandai periode-periode perubahan besar. Gereja memandang dunia maya (cyberspace) ini sebagai panggilan dan tantangan untuk berkiprah dalam mendayagunakan segala potensinya untuk pewartaan Injil. Itulah tantangan awal milenium ini dalam pesan untuk mengikuti perintah Tuhan “Bertolaklah ke tempat yang dalam ke tempat yang lebih dalam” : Duc in altum! (Lk 5:4).
Internet adalah sarana bukan tujuan
3. Gereja menyikapi media baru ini dengan realisme dan rasa percaya diri. Seperti media komunikasi lainnya, media baru ini adalah suatu sarana, bukan tujuan sendiri. Internet menyediakan peluang-peluang yang bagus sekali untuk pewartaan Injil, asalkan dilandasi kompetensi dan kesadaran yang jelas akan kekuatan dan kelemahannya. Terutama dalam memberikan informasi dan menerbitkan hasrat mengenal dengan pesan-pesan kristiani khususnya bagi kaum muda, yang semakin banyak mengunjungi Internet ini untuk melihat dunia luar. Oleh karena itu sangat pentinglah umat kristiani mencari sarana yang paling praktis dalam membantu mereka, yang mulai berkenalan lewat Internet, untuk beranjak dari dunia maya (cyberspace) ke dunia nyata jemaat kristiani.
Selanjutnya Internet bisa juga memberikan tindak lanjut yang diperlukan dalam pewartaan Injil sendiri. Khususnya dalam budaya yang kurang mendukung, kehidupan kristiani memerlukan pengajaran dan katekese yang berkesinambungan. Di sinilah kiranya Internet bisa amat membantu. Di Jejaring tersedia luas sumber-sumber informasi, dokumentasi, dan pengajaran tentang Gereja, tentang sejarah dan tradisinya, doktrin-doktrin dan keterlibatannya dalam segala bidang kehidupan di seluruh dunia. Dengan demikian, jelaslah bahwa kendati Internet tidak pernah akan bisa menggantikan pengalaman yang mendalam akan Tuhan, yang hanya bisa diberikan melalui penghayatan liturgis dan sakramental Gereja yang hidup, Internet pastilah bisa menyediakan pengganti dan pendukung yang unik dalam menyiapkan perjumpaan dengan Kristus dalam jemaat, dan dalam mendukung anggota beriman yang baru pada permulaan perjalanan imannya.
Yang virtual tidak pernah mengganti yang real
4. Namun, pendayagunaan Internet dalam rangka pewartaan Injil memunculkan beberapa hal yang perlu bahkan harus dipertanyakan. Esensi Internet adalah kemampuannya untuk menyediakan aliran informasi yang hampir tak pernah putus; sebagaian besar informasi itu lewat dalam sekejap. Dalam budaya yang menyusu pada hal-hal bersifat sementara mengandung resiko orang bersikap mementingkan suatu hal, bukannya nilai yang terkandung di dalamnya. Internet menyodorkan pengetahuan yang bukan main banyaknya, namun tidak mengajarkan nilai; bila nilai dikesampingkan, kemanusiaan kita sendirilah yang direndahkan, dan orang akan mudah kehilangan perspektip martabat adikodratinya. Kendati begitu besar potensialnya untuk kebaikan, lobang-lobang yang merendahkan dan menjerumuskan dalam penggunaan Internet sudah begitu jelas, dan otoritas publik pastilah bertanggungjawab dalam menjamin agar sarana yang begitu menakjubkan ini melayani kebaikan umum, bukannya menjadi sumber malapetaka.
Akumulasi pengetahuan bukan kebijaksanaan
Lebih jauh, Internet secara radikal mengubah hubungan psikologis seseorang dengan ruang dan waktu. Perhatian orang tertuju pada hal-hal yang bisa dipegang, yang berguna, yang apa-apa yang instan; stimulus untuk pemahaman dan permenungan yang lebih mendalam kurang. Padahal manusia mempunyai kebutuhan vital untuk saat-saat dan batin yang hening untuk merenungkan dan meneliti hidup dan rahasia-rahasianya, dan untuk berkembang secara bertahap menuju kematangan penguasaan diri dan dunia sekitarnya. Pengetahuan dan kebijaksanaan adalah buah kontemplasi, bukan hasil akumulasi fakta, betapa pun menariknya. Pengetahuan dan kebijaksanaan adalah buah sebuah wawasan atas makna yang lebih mendalam dari suatu hal dalam hubungannya dengan satu sama lain, maupun dengan dunia seluruhnya. Apalagi, sebagai sebuah forum di mana secara praktis semuanya diterima dan hampir tidak ada hal yang tahan lama, Internet cenderung ke pemikiran yang relativistik dan kerap kali mendorong orang untuk melarikan diri dari tanggungjawab dan keterlibatan personal.
Dalam konteks di atas, bagaimana kita akan menanamkan pengertiaan bahwa kebijaksanan tidak mengalir dari tumpukan informasi melainkan dari pengertiaan yang lebih mendalam, bahwa kebijaksanaan membedakan yang benar dari yang salah dan memberikan bobot nilai sesuai dengan pembedaan itu?
Internet terobosan baru, tanpa menggantikan kontak personal
5. Melalui Internet dimungkinkan jenis-jenis komunikasi dan kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Benar, aspek Internet ini membuka peluang-peluang yang menarik bagi pewartaan Injil. Akan tetapi juga benar bahwa hubungan-hubungan melalui media elektronik tidak akan pernah bisa menggantikan kontak personal yang diperlukan dalam penginjilan yang sejati. Karena pewartaan Injil selalu tergantung pada kesaksian personal dari orang yang diutus untuk mewartakan (bdk. Rom 10:14-15). Bagaimana caranya Gereja melangkah dari jenis kontak yang dimungkinkan Internet ke komunikasi yang lebih mendalam sebagaimana dituntut dalam pewartaan kristiani? Bagaimana kita membangun berlandaskan kontak awal dan pertukaran informasi yang dimungkinkan Internet?
Tidak bisa diragukan lagi revolusi elektronik menjanjikan terobosan-terobosan positip untuk dunia yang sedang berkembang; akan tetapi juga terdapat kemungkinan bahwa justru akan memperburuk ketidaksetaraan yang ada sekarang karena semakin melebarnya jurang informasi dan komunikasi. Bagaimakah kita bisa menjamin bahwa revolusi informasi dan komunikasi, yang motor utamanya Internet, akan berfungsi demi globalisasi kemajuan dan solidaritas manusia, yang merupakan tujuan yang erat terkait dengan misi pewartaan Gereja?
Internet lahir di dunia militer bisa untuk perdamaian dunia?
Akhirnya, dalam jaman yang penuh masalah ini, bolehlah saya bertanya: Bagaimanakah kita menjamin alat yang mengagumkan yang dulu diciptakan dalam konteks operasi militer sekarang dapat melayani usaha-usaha perdamaian? Dapatkah alat ini berpihak pada budaya dialog, partisipasi, solidaritas dan rekonsiliasi tanpa mana perdamaian tidak akan berkembang? Gereja percaya bahwa hal itu bisa; dan untuk menjamin bahwa itulah yang akan terjadi, Gereja memutuskan untuk masuk dalam gelanggang forum yang baru ini, dilengkapi dengan Injil Kristus, Pangeran Perdamaian.
Di Internet wajah Kristus perlu tampil juga
6. Internet menampilkan bermilyar-milyar gambar di jutaan monitor komputer di seluruh jagad. Dari galaksi gambar dan suara akan tampilkah wajah Kristus dan terdengarkankah suara-Nya? Karena hanya kalau wajahnya terlihat dan suaranya terdengarkan dunia akan mengetahui kabar gembira dari penebusan kita. Inilah tujuan pewartaan Injil. Dan inilah yang akan menjadikan Internet sebuah ruang kemanusiaan yang sejati, karena kalau tidak tersedia ruang untuk Kristus, tidak akan ada ruang untuk manusia.
Marilah melintasi ambang budaya baru ini: Internet!
Oleh karena itu, pada Hari Komunikasi Sedunia ini, saya dengan tegas memutuskan untuk mengundang seluruh Gereja untuk dengan berani melintasi ambang pintu yang baru ini, untuk mengayuh ke kedalaman Jaringan (Net) ini, sehingga sekarang sebagaimana dulu interaksi antara Injil dan budaya dapat memperlihatkan kepada dunia “kemuliaan Allah di wajah Kristus” (2 Kor 4:6). Semoga Tuhan memberkati semua yang berkerja demi tujuan ini.
Vatikan, 24 Januari 2002,
Pesta Santo Fransiskus dari Sales
Yohanes Paulus II
2. Bacaan II (sumber: gkjw.web.id)
GKJW dan Zaman Informasi
Oleh: Pdt. Dyah Ayu Krismawati
Manusia di seluruh dunia sekarang ini berada dalam kondisi saling ketergantungan. Informasi tentang peristiwa atau perkembangan ide yang ada di wilayah benua lain dapat kita peroleh dengan mudah dan dalam waktu yang relatif singkat entah itu melalui radio/televisi, surat kabar, atau internet. Kita mengagumi kemampuan media komunikasi sosial (media cetak, media elektronik, media alternatif) untuk mempersatukan seluruh dunia sehingga dunia ini menjadi sebuah desa dunia.
Hal ini didasarkan pada tesis Marshall McLuhan yang terkenal. Ia mengatakan bahwa yang mengubah budaya dan peradaban itu bukanlah ide, perang atau agama tetapi penemuan teknik baru yang mempengaruhi komunikasi. Teknologilah yang membongkar batas-batas dan membentuk global village atau desa dunia tersebut. Menurutnya “medium itu pesan”. Pesan bukanlah isi doktrin seperti yang diajarkan secara tradisional, melainkan efek yang dihasilkan oleh media pada diri kita.
Media komunikasi sosial telah begitu penting bagi banyak orang. Media menjadi sarana utama untuk memperoleh informasi dan pendidikan, untuk memperoleh bimbingan dan inspirasi dalam perilaku mereka sebagai individu, keluarga dan masyarakat secara luas. Oleh karena itu zaman ini disebut zaman informasi.
Fungsi informasi dari media juga semakin dipacu dengan perkembangan-perkembangan baru di bidang teknologi. Penemuan-penemuan baru: satelit, TV kabel, teknologi digital, dst telah sedemikian rupa mendorong semakin kuatnya fungsi informasi media.
Media juga mampu meningkatkan perasaana memiliki dan memperteguh identitas kelompok, entah itu kelompok yang berdasarkan suku atau agama. Ini fungsi korelasi media yang menghubungkan individu dengan realitas sosial. Misalnya peristiwa-peristiwa mondial yang bersifat keagamaan atau seremonial tentang pertandingan bulu tangkis atau acara Paskah di Vatican dapat meningkatkan rasa kebanggaan menjadi anggota salah satu kelompok.
Media juga menjadi sarana untuk memperteguh nilai-nilai tradisi dan spiritual. Dengan membuat paket-paket program tentang kebudayaan-kerohanian yang menarik, media dapat menyuarakan nilai-nilai dasar hidup manusia seperti keadilan, cinta kasih dan solidaritas sehingga mendorong manusia untuk ikut meyakini atau setidak-tidaknya menghargai bahwa nilai-nilai tersebut mempunyai arti.
Media juga mampu memobilisasi massa. Contohnya gerakan reformasi 1998 yang disebar melalui radio, televisi, majalah, koran, brosur, maupun email mampu memobilisasi massa sehingga memberi dukungan terhadap gerakan reformasi., atau perang Israel-Palestina yang diberitakan oleh media telah mendorong orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk berdemonstrasi menentang agresi Israel/perang,dsb.
Fungsi lainnya adalah menghibur. Keindahan alam, kesenian, dan kebudayaan dapat tersajikan sehingga memperkaya pengetahuan dan menghibur emosi massa.
Fungsi-fungsi tersebut telah sedemikian rupa menunjukkan bahwa efek media massa patut untuk diperhitungkan. Jika kemudian dipertanyakan apa korelasi antara zaman informasi ini, dan fungsi-fungsi media tersebut dengan GKJW sebagai komunitas keagamaan?
Zaman informasi ini telah menghasilkan perubahan-perubahan yang mungkin unpredictable. Terlalu cepat teknologi komunikasi berkembang sehingga menghasilkan dampak-dampak positif dan negatif yang latent maupun manifest. Sebutlah kebiasaan nonton TV anak-anak yang sudah mengalahkan keinginan mereka untuk Sekolah Minggu, konsumerisme yang dianut oleh banyak orang menggantikan nilai kesederhanaan yang diajarkan Tuhan Yesus. Internet yang dimanfaatkan secara salah mengisi pikiran manusia mengalahkan pembacaan Alkitab dan bahkan doa,dst. Gereja memasuki tantangan-tantangan besar. Media melalui proggramnya telah menjadi guru mengalahkan orang tua, sekolah dan bahkan gereja. Media telah mengambil alih peran lembaga-lembaga tersebut. Ini sebuah tantangan besar yang bisa saja tidak disadari.
Sementara itu penyadaran akan dampak media dan upaya-upaya antisipasi agar gereja dan elemennya mengetahui pola kerja media sehingga mampu menyusun strategi untuk membentengi diri dari pembodohan dan dampak negatif media amat minim dilakukan. Kalaupun ada yang melakukan, biasanya hanya soal-soal pengetahuan teknis sebatas pelatihan melek Internet misalnya atau khotbah-khotbah yang sedikit sekali menyinggung tentang dampak media. Soal-soal lain yang berhubungan dengan kritik terhadap media berkenaan dengan dampaknya terhadap kebiasaan jemaat tidak disentuh secara mendalam. Akibatnya persoalan dampak media yang bisa berbahaya ini dianggap sepele. Kedewasaan dalam menerima gempuran media itu penting, namun kedewasaan itu tidak datang begitu saja. Perlu ada pengkondisian. Karena tindakan yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh media tetapi ketiadaan pendampingan dan dasar-dasar kuat dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan negatif dari gempuran zaman.
Di sisi lain, pemanfaatan media untuk penginjilan adalah urgent di zaman informasi ini. Alangkah baiknya jika kita memiliki bahan-bahan pendidikan untuk anak-anak sekolah minggu, katekisasi remaja dan sidi, katekisasi pra-nikah atau tuntunan untuk Pembinaan Teologi Warga Gereja, atau bahan-bahan lain yang disimpan dalam Compact Disc (CD). Tentunya dibuat dengan profesional melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya dan dengan kemasan yang menarik. Hasilnya di simpan di Perpustakaan GKJW atau di tempat lain yang dipilih GKJW sehingga dapat dicopy atau dibeli oleh jemaat sebagai bahan yang akan dipakai oleh Pendeta,Guru Katekisasi, Guru Sekolah Minggu, Guru Injil atau bahkan keluarga-keluarga untuk membina warga jemaat dan menumbuhkan diskusi/persekutuan dalam keluarga. Jika hampir semua warga jemaat berupaya bisa memiliki bahkan menikmati VCD atau bahkan DVD dilengkapi kaset-kaset nyanyian oleh penyanyi-penyanyi terkenal, atau film-film box office atau apa saja yang sekuler sampai di desa-desa pelosok sekalipun, MENGAPA TIDAK dengan CD yang berisi pembinaan iman yang bisa mereka pakai setiap saat melengkapi pembinaan-pembinaan yang dilakukan oleh pejabat gereja? Mungkin memang jemaat perlu dikondisikan dan dibiasakan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi ini demi kepentingan pertumbuhan iman. Hal itu bisa dilakukan jika GKJW tanggap dengan zaman informasi yang satu sisinya mampu memporak-porandakan ajaran-ajaran baik.
Inspirasi:Y.I Iswarahadi, SJ (2003),”Beriman dengan Bermedia-Antologi Komunikasi”,
Yogyakarta, Kanisius.
[] selesai; terima kasih telah membaca dan selamat menanggapi, merdeka ... GBU !!! []
atas nama redaksi Majalah DUTA-GKJW daur 2005 – ....
? hendra setiawan (wapimred) © Malang, 25/1/2009
BAGIAN DUA: TEKNIS (PELAKSANAAN)
Memasuki ‘Dunia yang Baru’
~ sebuah langkah awal ~
A. Latar Belakang
I. Gambaran Umum[14]
Anda tentu pernah mendengar nama Wikipedia, sebuah ensiklopedia multibahasa dalam jaringan internet yang disusun agar dapat dibaca dan disunting oleh siapa pun juga. Isinya ditulis secara bersama-sama oleh para penggunanya.
Ya, Wikipedia adalah ensiklopedia bebas yang ditulis secara gotong-royong oleh para pengunjungnya. Oleh karenanya, Wikipedia memiliki keistimewaan; [sunting]oleh Olkfjfjfjgfjgfjgselain menyajikan informasi yang biasa ditemui di dalam sebuah ensiklopedia, ia juga memuat artikel-artikel yang biasanya ditemukan di dalam almanak, majalah spesialis, dan topik-topik berita yang masih hangat.
Isi Wikipedia juga dapat diciptakan oleh penggunanya. Pengunjung di Wikipedia juga dapat mengubah artikel, dan banyak yang melakukannya. Halaman-halaman selalu diubah. Jadi, tidak ada artikel yang pernah selesai. Dan karena itu pula di Wikipedia sering terjadi "kesulitan" yang unik. Tetapi ia pun memiliki sistem "penyembuhan sendiri" untuk menghadapi tantangan tersebut.
Nah, Anda juga mungkin sudah mendengar istilah citizen journalism atau jurnalisme warga negara. Istilah lain adalah "Jurnalisme Masyarakat", "public jurnalism" atau "participatory jurnalism". Apakah itu? Yakni kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisa serta penyampaian informasi dan berita[15].
Masing-masing orang dapat memberikan sesuatu informasi atau lontaran awal pemikiran tentang sesuatu permasalahan. Lainnya, dapat menanggapi; menambah informasi, meluruskan yang kurang tepat, hingga mencapai taraf yang ‘akurat’. Perbedaan yang ada bukan untuk saling menjatuhkan, mencari pembenaran. Namun demi mendapatkan pandangan yang lebih beragam, lebih luas, sehingga data yang ada tampil lebih objektif.
Mungkin seperti itulah gambaran dari aktivitas bentuk media baru (?) yang coba ditawarkan ini. Artinya, media yang hendak dikembangkan ini kita bangun bersama-sama. Semuanya, menjadi tanggung jawab bersama. Demi kemajuan bersama.
II. Gambaran Khusus
Tidak bisa dipungkiri, media punya kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Tentu, dengan maksud dan tujuan yang baik. Misalnya sebagai sarana ‘kritik sosial’, media berperan serta dalam pencerdasan [moral] bangsa. Atau sebagai sarana yang dapat mempererat rasa persaudaraan dan membangun empati. Seperti halnya komunitas blogger yang sedemikian rupa dan cepat membantu para korban bencana di Papua[16]. Atau yang sebelumnya pernah ada, lewat jaringan media cetak dan elektrik (TV), yang mengumpulkan dana kemanusiaan lewat media masing-masing. Semua ‘misi kemanusiaan’ ini berawal dari media yang mampu memformulasikan ‘visi’ yang sama.
Begitulah… nantinya kita pun dapat juga bergerak bersama di sana!
B. Nama
Nama adalah identitas diri, yang di dalamnya tercermin sebuah spirit dan kebanggaan akan jatidiri. Mengingat pentingnya nama ini, maka ada dua alternatif yang sementara ini muncul. Pertama, jika masih ingin meneruskan nama Majalah DUTA (tentu dengan alasan historisnya sebagaimana telah diungkap sebelumnya dan aspek legal-formal). Kedua, memakai nama lain namun tetap mengandung unsur GKJW (sebagaimana tujuan yang diharapkan dari pembentukan media baru, sebagaimana juga telah diungkap sebelumnya).
I. Alternatif penggunaan nama: “duta-E-magz”.
Kenapa nama “duta” tetap dipakai? Jelasnya adalah faktor historis (lihat di awal proposal/surat terbuka ini). “E” adalah kependekan dari elektronika/elektronis. Sebab, melalui jalur inilah, media ini akan dijalankan –sebagai fokus utama. “magz” adalah kependekan dari magazine atau majalah dalam bahasa Indonesia.
Jadi, arti lengkapnya adalah Majalah Duta yang terbit dalam format elektronis. Tetapi, tentu saja ini bukan harga mati. Artinya, tetap ada kemungkinan bahwa Duta tampil seperti dalam bentuk semula; metode konvensional alias cetak. Hanya saja, pilihannya mungkin bukan dari “komunitas/lembaga” ini yang menerbitkannya. Atau bisa juga dari pengelola yang sama tetapi menghasilkan dua produk yang berbeda,
Lalu, sebagai moto atau slogan adalah: “mari! saling berbagi dan mengisi” atau “berbagi dan mengisi demi keutuhan ciptaan”. Pada pilihan kata pertama, alasannya seperti tersebut dalam bagian Latar Belakang. Sedangkan yang kedua, alasannya bisa dibaca pada form surat terbuka/proposal pada bagian Prawacana.
Adapun “demi keutuhan ciptaan” mengandung maksud bahwa media ini hendak mengusung tema/fokus ini sebagai nilai “idealisme”nya. ‘Keutuhan ciptaan’ bukan berarti mengacu kepada lingkungan semata, tetapi juga hubungan dengan sesama dan tentu saja kepada Sang Pencipta. Keutuhan secara totalitas.
Secara idealistik hal tersebut terwujudnyatakan dalam segala bentuk karya intelektual seperti tulisan, foto, atau gambar, dan sebagainya (termasuk juga karya berwujud gerak dan/atau suara, seperti musik, film/video) sebagaimana laiknya media. Nah, sementara itu, dalam aksi lanjutan nyata bersama berikutnya (wujud realistik), -seperti terurai dalam bagian Latar Belakang bagian Gambaran Khusus- memang merupakan jangka panjang. Tetapi tidak berarti hal itu tidak bisa berjalan bersama-sama. Hanya saja, pada awalnya adalah media ini ingin ‘mempersatukan’ visi komunitas (GKJW) secara bersama.
II. Alternatif pemakaian nama: “Warta GKJW”
Jemaat-jemaat GKJW yang memiliki ‘media Minggu’ memang bisa memakai nama bermacam-macam. Ada yang memakai nama Warta Jemaat, Berita Jemaat, Info Jemaat dan lain-lain. Nama “warta” dipilih karena dari segi aspek kebahasaan lebih dekat dengan kultur Jawa. Dan secara arti (etimologi) juga jauh lebih luas ketimbang memakai nama berita, info dan semacamnya.
Untuk nama “GKJW”, tentu ini menjadi ‘menu wajib’, sebab sasaran yang dibidik adalah komunitas GKJW. Maksudnya, bukan sekadar nama jemaat, atau warga gereja di jemaat mana. Namun juga bagi siapa saja yang memiliki hubungan erat dengan GKJW, simpatisan dan siapapun juga mereka yang berminat pada tumbuh-kembangnya GKJW. Artinya, bisa saja yang terlibat di sini adalah perseorangan (bisa sebagai anggota jemaat atau eks warga GKJW yang kini marenca ke berbagai tempat), kelompok kategorial jemaat (komisi pembinaan/pelayanan), institusi gerejawi (jemaat GKJW) atau komunitas lain di luar GKJW (sama juga; baik personal, kelompok kategorial, institusi lintas batas).
C. Tujuan dan Manfaat
1. Meneruskan fungsi/misi media: sebagai wadah pewartaan/pembinaan iman, informasi dan komunikasi (karena Majalah Duta tidak dapat terbit lagi per Januari 2009 sehingga saluran ini menjadi mandeg)
2. Sebagai media sambung rasa (antar warga, jemaat, komunitas): untuk segala sesuatu yang bersifat kebaikan dan kesejahteraan bersama
3. Wadah penyaluran ‘potensi’ (jurnalistik dan teknis)
D. Pelaksanaan
Kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh siapapun yang berminat, yang bersimpati, yang punya ‘hati’ ke media ini. Bebas, tidak terikat waktu. Di mana saja dan kapan saja. Hanya memang perlu wadah komunitas khusus yang di dalamnya bertindak sebagai fulltimer. Fungsinya adalah sebagai goal keeper (penjaga visi-misi) demi menjaga kesinambungan (keajegan terbit) media ini.
Secara teknis, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan link info. Artinya, media ini dapat menjadi rujukan bersama semua komunitas di GKJW yang memiliki media online via internet. Dengan begitu, semua info tentang GKJW hanya perlu ‘satu pintu’. Tidak menyusahkan siapapun yang ingin mendapat informasi dan berkomunikasi tentang GKJW. Selain itu, media komunitas masing-masing tidak malah ‘mati’ melainkan dapat berkembang karena dapat saling belajar untuk melihat media komunitas lain.
E. Sumber Daya dan Usaha
Bantuan yang diberikan untuk pengembangan media ini bebas; segala rupa (pendanaan, barang, kemampuan teknis, dll) asal tidak mengikat (dapat mempengaruhi kebijakan ‘redaksi’). Segala bentuk persembahan yang masuk dan keluar akan dilaporkan secara terbuka dan transparan (minimal setiap bulan) kepada seluruh ‘pendukung’ media ini.
F. Analisa Kebutuhan
Untuk mendukung aktivitas tersebut, hal-hal yang dibutuhkan adalah:
1. Berhubungan dengan sarana-prasarana pendukung è misalnya komputer, scanner, printer, kamera digital, telepon, faksimili; termasuk anggaran biaya listrik
2. Berhubungan dengan media online è misalnya kebutuhan pemakaian internet/bulan, aktivitas jurnalistik (biaya transpor peliputan, makan)
3. Lain-lain è misalnya sekretariat redaksi (kebutuhan ‘kantor’), ‘honorarium sepantasnya’ bagi setiap pewarta karya (terutama karya yang diterbitkan dalam bentuk cetak); termasuk tenaga fulltimer
G. Penutup
Sehubungan dengan keterbatasan bahasa tulis, ‘proposal’ ini memang perlu dibicarakan (ditindaklanjuti) kembali.
Terima kasih atas perhatiannya.
Malang, 31 Januari 2009
a.n. …………………………………………………
Hendra Setiawan
“Saya memang tidak bisa melakukan semuanya. Tapi saya bisa melakukan sesuatu.
Dan saya tidak akan membiarkan apa yang tidak bisa saya lakukan
menghambat apa yang bisa saya kerjakan.”
(Edward Everett Hale, agamawan AS)
H. Lampiran
Analisa Pembeayaan
A. Perangkat Sarana
1. Komputer ….. unit Sumbangan pribadi
2. Scanner ….. unit
3. Printer ….. unit
4. Kamera digital ….. unit Sumbangan pribadi
5. Telepon/faksimili ….. unit
B. Sarana Penunjang
1. Tempat kesekretariatan Sumbangan pribadi
2. Beaya pemakaian listrik/bulan
3. Beaya pemakaian internet/bulan
C. Sarana Kegiatan Jurnalistik
1. Beaya peliputan (transport dan konsumsi)
a. Dalam kota
b. Luar kota
2. ‘Honorarium’
a. Tenaga fulltimer redaksi/orang/bulan
b. Pewarta karya (plus bea kirim)/orang/bulan
3. Kebutuhan kesekretariatan
a. Beaya konsumsi/bulan
b. Beaya perawatan/bulan
TOTAL kebutuhan/bulan = Rp …………………………………..
Catatan/Keterangan:
v Perhitungan kebutuhan dilakukan perbulan sebagai asumsi perhitungan normal media bulanan pada umumnya
v Tempat kesekretariatan merujuk pada lokasi alamat fixed ‘kantor’ sekretariat redaksi
v Kebutuhan kesekretariatan hanya menghitung pada pengeluaran riil untuk konsumsi (makan) dan sekadar perawatan tempat dan perangkat sarana
v ‘Honorarium’ diberikan bukan sebagai alasan utama (faktor finasnsial) namun terlebih sebagai bentuk penghargaan/perhatian atas ‘perjuangan’ mereka demi ‘kelangsungan hidup’ media ini. Nantilah kalau media ini sudah mapan … (artinya, pelayanan tetaplah pelayanan tapi perut juga masih butuh diisi makanan, dan ke mana kaki melangkah juga masih butuh tumpangan)
Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo;
sic homo fit sapiens bis non, sed saepe legendo
Batu berlubang bukan karena kekuatan yang dashyat
tapi akibat tetesan air yang berulangkali; Begitu pula manusia menjadi bijak
bukan karena satu dua kali tapi karena kerapkali membaca.
[1] Surat Terbuka/proposal “penghidupan kembali” media GKJW; juga sebagai tanggapan atas respon yang diberikan kepada Redaksi Majalah Duta atas vakumnya media ini.
[2] “…. Pramila ingkang koela saosaken ngiras dados seksinipun badan koela, poenika inggih isi pirantos-pirantos ingkang goenanipun kangge ngijataken tekad pandjenengan ing salebetipoen penggajoeh moerih saja raketipoen patoenggilan, poenapa dene tekad sedija ngelar djadjahaning keratonipoen Goesti Jesoes Kristoes. …”
(kutipan bab Poerwa Sabda; dari Serat Woelanan DOETA edisi No. 1, October 1935, hlm. 1-2)
“…. Manoet ada-ada Madjelis Agoeng anggenipoen angwontenaken serat kabar poenika, soepados dadosa pirantos anenangi dateng gesanging manah Kristen, anggijataken tangsoeling pasaderekan toewin samboeng-raketipoen Pasamoean ing ngrika-ngriki, karana sami pikantoek wartos bab bingah-soesahing saderekipoen ingkang sami noenggil pangadjeng-adjeng. …”
(kutipan bab Doeta kalijan Pasamoean; dari Serat Woelanan DOETA edisi No. 5, Februari 1936, hlm. 29)
[3] “…. Ing saderengipoen Doeta kawedalaken, para sadherek sami kawartosan lan katerang-terangaken roemijin, soepados sawedalipoen Doeta, karsaa ananggapi ing pisowanipoen . …”
(kutipan bab Doeta kalijan Pasamoean; dari Serat Woelanan DOETA edisi No. 5, Februari 1936, hlm. 29-30)
[4] “…. Doeh para saderek ! Ing djaman enggal poenika menawi kita boten maos serat kabar, tamtoe kapedjahan wawasan. Gredja Kristen Djawi [Wetan] betah sanget anggadahi serat kabar ingkang mitajani. Ingkang poenika, jen Gredja Kristen Djawi Wetan kepengin gadah kalawarti sae toer kijat, soewawi toemandang. …”
(kutipan bab Toetoep Tahoen Doeta; dari Serat Woelanan DOETA edisi No. 1, September 1936, hlm. 38)
[5] Anggapan seperti ini, sudilah kiranya tidak selalu di’agung’kan, seakan kita selalu kekurangan. Belajar dari ‘sejarah’ (pengelolaan APBJ/PKT Jemaat, misalnya) dan kembali pada iman, apa pernah kita kekurangan?
[6] “…. Sarehne Doeta poenika serat kabaripoen Gredja Kristen Tanah Djawi Wetan ingkang toedjoenipoen boten bade ngoepados kaoentoengan ingkang awoedjoed jatra, kadjawi moerih kabangoening kabatosan Kristen, pramila ingkang wadjib mitoeloengi dateng toemindakipoen Doeta soepados saja madjeng lan angsal manahipoen saderek Pasamoean Oemoem, poenika boten ngamingaken para Correspondent lan para Agent, ananging ingkang langkoeng roemaket malih inggih poenika para Palados lan para Panoentoen, katerang-terangaken wonten ing saben pakempalan, padjagongan l.s.s. …”
(kutipan bab Doeta kalijan Pasamoean; dari Serat Woelanan DOETA edisi No. 5, Februari 1936, hlm. 30)
[7] Sedikit menyebut media online (via internet), baik dalam bentuk web, blog, friendster adalah gkjw.web.id, gkjw jemaat pacitan, caruban, pandaan, rungkut, surabaya, simomulyo, kppm gkjw jemaat gresik. Sedangkan untuk menyebut yang konvensional dalam bentuk media cetak, data yang didapat agak sulit untuk meng-up date karena bisa jadi terus bertambah, ganti nama ataupun vakum.
[8] Sedikit di antaranya, baik dalam versi cetak maupun online (juga dalam bentuk web, blog) adalah jawa pos, suara pembaruan, kompas, majalah reformata, majalah bahana, tokoh (bacaan wanita dan keluarga), wikipedia, the jakarta post,indopos online, MBM tempo, koran tempo, okezone.com, duta masyarakat, surabaya post, surabaya pagi.com, unisosdem.org, pustakalewi.net, ytb indonesia, sinode gkj, eastjava.com, digital library unej, petra, gki pondok indah (jakarta), gatra, pds (partai damai sejahtera), id daily.net, kabar pemilu.com, jawabaNews, inilah.com, pemkab jombang, blog orang kampung, jagad mayanipun mas oye, media sipil.
[9] Kegamangan ini salah satu indikasinya adalah minimnya keseriusan GKJW dalam hal penguasaan IT media (media teknologi informasi/information technology media). Berapa banyak kegiatan yang sebenarnya cukup dan bahkan boleh dibilang sangat bagus, tetapi upaya publikasinya ternyata masih jauh dari harapan.
[10] Kata ini mungkin juga tidak terlalu tepat, sebab penerbitan media berkaitan dengan visi-misi dari penerbitnya (pemilik dan/atau lembaga yang menaunginya). Tetapi paling tidak, ini bisa jadi bahan refleksi dan pembelajaran. Usia yang mapan, perlu diimbangi dengan kesadaran akan ‘sejarah masa’. Seperti kata bijak, “Tiap orang ada masanya, dan tiap masa ada orangnya.”
Barangkali, kita juga bisa belajar dari komunitas Katolik. Pada peringatan Hari Komunikasi Sedunia Ke-36 pada Minggu, 12 Mei 2002, misalnya, Paus Paulus Yohanes II mengajak seluruh gereja agar mampu melakukan kreativitas sebagaimana adanya aneka budaya dan tradisi yang bekembang kini. Fokusnya adalah jalur internet sebagai forum baru pemberitaan Sabda (Injil); sebagai penerus tugas para rasul di zamannya. Dalam tradisi gereja Katolik, hal ini telah ditandai dengan penyelenggaraan Pekan Komunikasi yang berlangsung pada minggu setelah masa Pentakosta (sekitar Mei). Dan, website “mirifica” menjadi sebuah kantor berita resmi KWI. Segala info dengan topik tertentu dari berbagai sumber dapat bisa diakses di sana. Sebuah kemudahan…
Pesan itu telah berlangsung sewindu lebih. Jujur saja, kita tertinggal. Tapi, apakah itu hanya menjadi sebatas wacana dan penyesalan belaka (atau pengharapan baru) bagi kita? Di situ letak persoalan untuk menjawabnya …
[11] Pilihan yang agak rasional barangkali memang perlu ‘kompromi’. Artinya, nama Duta tidak akan dihilangkan, karena bagaimanapun Duta adalah sebuah fakta dan data sejarah. Bedanya dengan yang lain, karena ini media gereja, nama menjadi brand image. Yang perlu dilakukan –sebaru apapun manajemennya, toh pemiliknya dan pengelolanya tetaplah sama: warga jemaat GKJW sendiri, bukan yang lain- hanyalah memperkuat, me-review, menata-ulang brand image tadi. Beda halnya, misalnya jika ada pergantian ‘pemilik’, meskipun itu hanya sebatas sharing modal.
Ambil contoh, yang khusus, nama majalah rohani Narwastu menjadi Narwastu Pembaruan. Ini disebabkan adanya sharing baru dalam hal permodalan (kepemilikan saham?). Atau, yang umum (media milik Jawa Pos group), koran Dharma Nyata beralih rupa menjadi tabloid Nyata. Perubahan yang baru sama sekali. Awalnya tetap mempertahankan nama, tetapi menonjolkan salah satunya (Nyata). Belakangan, nama awal dihilangkan. Atau, seperti majalah Jayabaya. Meski bernaung pada manajemen baru, nama tetap dipertahankan. Perubahan terletak pada perwajahan yang lebih berwarna, agar semakin banyak peminatnya (perluasan sasaran/target pembaca).
[12] Jalur internet adalah gagasan pilihan alternatif lain dari media bentuk konvensional (cetak), yang sementara ini memang jadi kendala. Dengan merambah jalur baru ini, kesempatan untuk lebih memperluas jangkauan pelayanan bisa terjadi. Tetapi memang perlu diperhatikan juga mereka yang kesulitan terhadap akses teknologi informasi semacam ini.
Maka, pilihannya kelak, yang memungkinkan adalah tetap menyediakan Duta dalam bentuk seperti biasanya dan ditambah dengan bentuk pengembangan baru. Atau, bagi siapapun diperkenankan memperbanyak sendiri. Dengan catatan, tetap memperhatikan ‘kode etik’ penyiaran/penyebarluasan informasi.
[13] Secara ‘idealisme’, media tugasnya selain sebagai ‘corong’ informasi dan komunikasi, juga melakukan ‘dekonstruksi moral’ (kontrol sosial). Ini juga perlu menjadi bahan pertimbangan, jikalau isi media dipersamakan antara yang versi cetak dan online.
Berhubung ini hanyalah langkah awal, maka hal-hal di atas bisa menjadi pilihan yang realistis. Mengingat secara finansial, ‘redaksi’ memang belum bisa melakukan aktivitas yang cukup mumpuni.
[14] Keterangan tentang istilah dan penjelasan dikutip dari Wikipedia.
[15] Barangkali Anda tahu bagaimana kiprah ‘radio DPR’ Suara Surabaya? Ya, seperti itu riilnya. Meski tidak menerjunkan tim khusus, tetapi perkembangan informasi bisa didapatkan. Segala keluh kesah dapat ditindaklanjuti. Sebab, setiap orang (pendengar) merasa menjadi bagian dari kebersamaan; untuk berbagi informasi dan pengetahuan. Orang melakukannya dengan rela dan tulus hati. Itulah semangat, spirit atau jiwa yang dapat dipelajari.
[16] Sumber diambil dari Koran Tempo Edisi …………….
14 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar